PBSD UPGRIS Gelar Hari Bahasa Ibu Internasional 2018

PBSD UPGRIS Gelar Hari Bahasa Ibu Internasional 2018

Peringati Hari Bahasa Ibu Internasional Ahmad Tohari Orasi di UPGRIS

Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh manusia sejak ia dilahirkan. Bahasa ibu menjadi komunikasi manusia di era pertumbuhan. Dengan begitu, bahasa ibu menjadi bahasa yang tak hanya berguna sebagai komunikasi semata. Bahasa ibu juga memiliki nilai-nilai kasih sayang karena di dalamnya biasa dipakai seorang ibu kepada anak-anaknya. Bahasa ibu menjadi bahasa pertama penyampaian pendidikan dasar bagi seorang manusia. Dan bahasa ibu, biasanya tak lain adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat berdasarkan masing-masing tempat. Misalnya, seorang yang lahir di daerah pesisir Jawa Tengah, tentu saja akan dibesarkan dengan komunikasi menggunakan bahasa asli daerah tersebut, sebut saja Jawa Ngapak, Jawa Pesisiran, atau Jawa Tegalan. Padahal, Indonesia sendiri memili sekitar 742 bahasa daerah yang keseluruhannya memiliki pengucap di masing-masing daerah, yang lambat laun berkurang pengucapnya.

Namun, dari tahun ke tahun, bahasa ibu pelahan mulai berkurang penggunanya. Bahasa ibu mulai jarang digunakan karena faktor keluarga, pendidikan, juga pergaulan. Di ranah keluarga, kadang banyak orangtua yang terlalu besar memberikan harapan kepada anaknya agar bisa mampu berbahasa Indonesia atau Inggris sejak dini. Orangtua merasa bangga jika anaknya yang mahir bahasa asing sajak kecil. Padahal, dalam sistem pendidikan kita sudah diatur kapan sebaiknya seorang anak mulai mempelajari bahasa kedua (Indonesia) dan ketiga (misal Inggris). Kedua, faktor pendidikan. Banyak sistem pengajaran di kelas yang sudah tidak menggunakan bahasa pengantar menggunakan bahasa ibu menurut masing-masing daerah. Rata-rata bahasa pengajaran menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya, dengan gharapan agar mudah menyampaikan materi. Padahal, sebenarnya bahasa ibu penting digunakan, terutama pendidikan dasar. Semisal penggunaan bahasa Jawa alus untuk anak-anak SD di Jawa. Ketiga adalah pergaulan. Anak cenderung berbahasa mengikuti apa yang dipakai oleh teman-temannya. Tak jarang, anak-anak terpengaruhi berkata-kata jorok karena terpengaruh teman-temannya. Begitu pula dengan penggunaan bahasa ibu. Anak yang lahir di desa dan dibesarkan di kota besar cenderung akan mengikuti bahasa pergaulan di kota ketimbang bahasa asli ibunya.

Atas dasar pelbagai pertimbangan di atas, Universitas PGRI Semarang berkomitmen untu menjaga penggunaan bahasa ibu sebagai kekayaan budaya dan bangsa yang patut dipertahankan. Wujudnya adalah dengan menyelenggarakan Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2018 yang diselenggarakan Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang pada tanggal 21 Februari 2018 di Kampus IV Universitas PGRI Semarang. Berbagai acara yang akan diselengarakan diantaranya, Selasa (20/2) lomba tulis cerkak tingkat SMA Sederajat se-Jawa Tengah, Rabu (21/2) Seminar nasional narasumber Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd, Prof Dr Teguh Supriyanto MHum, serta orasi Budaya Ahmad Tohari. Kethoprak “Suminten Edan” di Lapangan Kampus IV UPGRIS, Rabu (21/2) serta Workshop Penyusunan Capaian Pembelajaran Program studi Bahasa dan Sastra Daerah Se-Indonesia seebagai Narasumber Dr Ir Paristivanti Nurwardani MP di Star Hotel.

Peran bahasa daerah atau bahasa ibu juga sangat penting, selain sebagai identitas kedaerahan, juga sebagai wujud keberagaman budaya dalam kebersamaan. Sementara Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPGRIS Dra Asropah MPd menuturkan, “Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dimanfaatkan untuk merefleksi pelestarian bahasa Ibu. Bahasa ibu menjadi identitas bangsa dan harus terus dilestarikan dengan berbagai cara. Salah satunya yang sudah dilakukan Ahmad Tohari yakni membuat kamus bahasa Banyumasan (ngapak),” imbuh Asropah.

WhatsApp Image 2018-02-06 at 11.24.29

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *