Naka Raih Beasiswa ke Belanda untuk Tulis Karya Sastra

Naka Raih Beasiswa ke Belanda untuk Tulis Karya Sastra

Belanda kerkenal dengan koleksi buku dan data tentang Indonesia yang lengkap. Salah satunya perpustakaan di Universitas Leiden. Banyak peneliti, akademisi, dan penulis di Indonesia datang ke Belanda untuk mencari tambahan data maupun menggali informasi yang tersimpan di sana.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang, Setia naka Andrian, belum lama ini mendapat beasiswa dari Komite Buku Nasional Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam program Residensi Penulis Indonesia 2019, selama enam puluh hari, yanitu pada 16 Oktober – 14 Desember 2019.

“Ini merupakan kali pertama saya mengikuti residensi untuk melakukan kerja penulisan sastra di luar negeri. Ini program yang lebih menantang dari yang telah dijalani sebelumnya,” tutur Naka sepulang dari Belanda, belum lama ini.

Baginya, mengikuti program residensi selama dua bulan di Leiden Belanda tersebut dapat menjadi pengalaman tersendiri dalam proses penciptaan karya. Selain dapat menjalin hubungan dengan berbagai pihak, juga dapat menemukan berbagai data penting yang dibutuhkan untuk penulisan sastranya.

“Ya, apalagi residensi saya di Leiden, ada perpustakaan Universitas Leiden pula yang terkenal lengkap dengan referensi tentang Indonesia. Tentu saya dapat menemukan banyak referensi yang sangat berguna untuk kebutuhan penulisan ini,” tutur Naka. Dari residensinya tersebut, Naka diminta untuk menyelesaikan sebuah buku karya sastra. Selepas pulang dari residensi, selama satu tahun akan berproses menuliskan karya sastra yang telah diajukan sejak saat proposal dikirimkan.

“Saya mengajukan akan menulis puisi. Namun tidak menutup kemungkinan juga akan menulis karya lain, entah cerita pendek atau novel. Yang pasti, saya akan mengejar buku puisi terlebih dahulu. Yang telah saya ajukan kepada Komite Buku Nasional saat pendaftaran,” tutur Naka.

Sementara itu, Rektor Universitas PGRI Semarang Dr.Muhdi, SH, M.Hum, menyambut baik kepulangan Setia Naka dari Belanda. “Saya berharap apa yang dicapai Pak Naka bisa menginspirasi para dosen lain agar terus mengembangkan diri. Semoga ini bisa menginspirasi dosen lain,” ungkap Muhdi. Selain itu, Muhdi menganggap kapasitas dosen adalah kunci bagi peningkatan kemampuan mahasiswa.[]

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *