Menemukan Bakat yang Sempat Terpendam

Menemukan Bakat yang Sempat Terpendam

Di balik sikap cueknya, ada semacam keahlian yang tak tampak. Ia memang kerap asik sendirian bersama telepon genggam di tangannya. Ia juga sering asik berlama-lama bermain media sosial. Tetapi ketika sudah memegang bet dan berlaga di hadapan papan tenis meja, jangan tanya kegesitannya. Kesan cuek dan pendiam itu luruh seketika. Dialah Wulan Lutviana sari, mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Universitas PGRI Semarang. Kemampuannya bermain tenis meja telah mengantarkan Wulan menjadi petenis meja andalan yang dimiliki oleh almamaternya.

Namun, jika merunut prosesnya dalam berlatih tenis meja, ada hal yang sebenarnya publik ketahui. Kemampuannya bukan datang tiba-tiba. Ada laku yang mesti dilalui Wulan hingga sampai pada titik ini. Sudah bertahun-tahun lamanya Wulan menelateni tenis meja. Da kisah menarik sebelum akhirnya Wulan mahir tenis meja. “Saya menekuni tenis meja sejak SD kelas 3 itupun berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu saya ditunjuk oleh guru olahraga SD untuk mengikuti Porseni tingkat Gugus. Eh, tanpa diduga malah dapat juara,” kisah mahasiswa kelahiran Kendal, 19 September 1995, ini.

Kedua orangtua Wulan pun kaget bukan main. Tak disangka Wulan memiliki bakat yang terpendam, dan akhirnya kini tampak. “Melihat prestasi saya yang begitu mengagetkan, papa saya pun berinisiatif menyekolahkan saya untuk sekolah tenis meja di Semarang. Dari Kaliwungu sampai Semarang setiap hari senin sampai jumat saya diantar memakai sepeda motor oleh papa. Dan Allhamdulillah sampai sekarang ini tenis meja masih sangat melekat di kehidupan saya,” kenang Wulan penuh haru.

Dan sejak mengikuti sekolah tenis meja inilah, Wulan merasa memiliki saluran yang tepat untuk bakatnya yang selama ini sempat terpendam. Dan meskipun mengikuti sekolah tenis meja, Wulan tetap merasa bahwa yang menentukan kemampuannya adalah semangatnya yang tinggi untuk belajar otodidak. Ia pun merasa tak mewarisi bakat orangtua karena memang keduanya tak memiliki bakat tenis meja. Namun kedua orangtuanyalah yang secara telaten menyemangati Wulan. Bahkan, berkat jasa ayahnyalah yang setiap hari mengantarnya dari Kaliwungu ke Semarang untuk mengikuti sekolah tenis meja.

Tak hanya itu, Wulan juga giat berlatih sendiri selain di tempat kursus. Baginya disiplin adalah kunci utama untuk menjaga kemampuan agar terus terasah. “Proses latihan saya sangat terstruktur, dalam seminggu saya harus dua kali minimal mencium lapangan tenis meja. Karena bagi saya bermain tenis meja sudah mendarah daging, tak boleh menunda latihan sekalipun.” Dengan pola yang seperti itu, Wulan merasakan betul manfaat yang dirasakan dari kedisiplinan berlatih.

Tak sia-sia kerja kerasnya itu. Wulan pun mulai menuai banyak prestasi. Dari satu turnamen ke turnamen, Wulan mulai meraih banyak medali, di antaranya PORSENI, POPDA, OOSN, PORPROV, PORSIMA, dan PORSENASMA. Beberapa waktu silam, Wulan berhasil menjadi Juara 1 Ganda Putri Tenis Meja PORSENAMSA 3 di Palembang. Selain itu, ia juga meraih Juara 3 Ganda Putri Tenis Meja PORSENAMSA 2 di Semarang, Juara 1 tingkat SMP POPDA di Kendal Juara 2 tingkat SMA POPDA di Kendal.

Banyak pula kisah-kisah berkesan yang pernah Wulan alami selama bermain tenis meja. “Selama menekuni tenis meja tentunya sangat banyak sekali kesan–kesan yang saya dapatkan, namun bagi saya yang paling berkesan adalah selama saya duduk di bangku SD sampai SMA saya selalu  mendapatkan beasiswa. Allhamdulillah dapat meringankan beban kedua orangtua dalam menyekolahkan saya. Selanjutnya menambah tali persaudaraan antara saya dengan pelatih, guru, dan teman. Allhamdulillah jalan rejeki semakin panjang,” ungkap alumnus SMA N 01 Kaliwungu, ini.

Selain itu, Wulan juga membagi rahasianya bahwa bermain tenis meja tak bisa dipandang sepele. Ada trik khusu, menurutnya, yang mesti dipahami. “Menurut saya bermain tenis meja itu seperti belajar matematika, yaitu menggunakan rumus. Misalnya saja, untuk menerima servis bola pendek dan bola tersebut isi dan menerima servis bola panjang dan isi itu sudah beda cara menerimanya. Semua menggunakan rumus dan harus dihafal,” jelas Wulan. []

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *