Guru Bahasa Indonesia Harus Bisa Berpuisi

Guru Bahasa Indonesia Harus Bisa Berpuisi

Pengalaman manusia bisa dicatat ke dalam bentuk puisi, tak melulu catatan harian atau memoar. Peristiwa sehari-hari seorang guru, misalnya. Lewat puisi, seorang guru bisa mengisahkan pengalamannya mengajar atau saat berinteraksi dengan siswa. Selain itu, untuk guru bahasa Indonesia, kemampuan guru dalam menulis puisi bisa sangat membantu proses mengajar. Guru bisa mengajar puisi dengan lebih intens dan mendalam karena guru juga menguasai teknik penulisan puisi.

Teguh Satrio, alumnus Universitas PGRI Semarang, mengungkapkan alasannya menulis puisi karena tak ingin menjadi guru yang, dalam istilah bahasa Jawa, jarkoni (bisa ngajari ora bisa nglakoni/ bisa mengajari tapi tidak bisa mempraktikan sendiri).

“Saya malu kalau mengajari siswa menulis puisi sedangkan saya sendiri tak bisa menulis puisi. Maka saya terpacu menulis puisi agar ketika saya mengajar puisi, saya juga bisa membuktikan bahwa sebagai guru bahasa Indonesia saya harus bisa menulis puisi,” ungkap Teguh saat acara peluncuran buku puisi tunggalnya Jejak Tubuh, terbitan Garudhawaca Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Progdi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia UPGRIS kerja sama dengan UPT Perpustakaan, di aula ruang baca perpustakaan Jl. Lingga Raya (21/09).

Buku yang merangkum puisi-puisi yang Teguh tulis sejak tahun 2008 ini juga hendak dimaksudkan Teguh untuk memotivasi siswa di tempatnya mengajar yaitu SMK Ksatrian 2 Semarang.

Dikisahkan Teguh pula, “Dulu saya tak berani menerbitkan buku puisi karena diejek oleh dosen. Puisi saya dianggap jelek. Sejak saat itu saya bertekad akan membuktikan diri bahwa saya bisa menulis puisi. Akhirnya, ketika ada peristiwa-peristiwa penting atau berkesan, biasanya saya tulis dalam bentuk puisi. Karena itulah buku ini saya juduli “Jejak Tubuh”.”

Dalam peluncuran buku tersebut, terlibat pula Ketua Progdi Program Pascasarjana PBSI UPGRIS Dr.Harjito, M.Hum, sastrawan dan aktivis kebudayaan Sosiawan Leak, dan teaterawan dan dosen Universitas Sultan Agung Dr.Turahmat, M.Pd., sebagai pembicara serta penyair aktivis seni kelahiran Kendal Setia Naka Andrian.

Meski bertabur puisi dalam lanskap peristiwa yang beragam, Harjito menangkap ada kecenderungan yang begitu kentara dalam puisi Teguh, yaitu kesan pengalaman spiritual.  “Momen-momen spiritual begitu banyak terpacak di puisi-puisi Teguh, salah satunya di puisi “Pencarian” kata Harjito. Dikutipnya puisi termaksud, “aku mencari alif/ tersesat dalam dal/ nun mengapa?/ kaf mendekap/ lam sembahyang// dan aku merangkak/ ihdinasshiratal mustaqim.”

Sosiawan Leak menganggap puisi Teguh menunjukan luasnya jangkauan tema puisi-puisi Teguh. “Jejak tubu dalam puisi Teguh tercecer di mana-mana, di sekolah, rumah, tepi jalan, di kampus, hingga di toliet. Seolah-olah setiap tempat dan hal-hal yang menurut Teguh menarik, bisa jadi puisi. Untuk itulah persebaran diksi yang Teguh tulis seringkali tak terduga. Bahkan seringkali menggedor. Harusnya ada sesuatu yang mengikat puisi-puisi di buku ini,” komentar penyair yang sering keliling kota di Indonesia untuk pentas baca puisi.

Turahmat justru punya komentar nyaris serupa. Puisi-puisi Teguh begitu banyak mengambil tema keseharian. “Jejak peristiwa sebagai referensi puisi begitu dominan. Pengalaman berhadapan dengan peristiwa demi peristiwa menjadi semacam biografi tubuh dalam puisi. Sayangnya, Teguh tak menghadirkan puisinya secara kronologis. Sehingga seperti ada lompatan peristiwa,” ungkap aktor teater ini.

Acara ini berlangsung hangat dan interaktif. Namun buku Teguh itu tak kalis dari kritik. Mahmud Hidayat, seorang guru yang hadir dalam acara tersebut menganggap kaver buku kurang tergarap dengan baik. “Kalau diperhatikan kaver bukunya mirip kaver buku pijat refleksi karena menampilkan telapak kaki dengan guratan mirip urat kaki,” ungkap Mahmud yang juga telah menerbitkan buku kritik puisi.

Tetapi pilihan judul Jejak Tubuh sangat tepat karena mewakili isi keseluruhan puisi dalam buku. Meski mengkritik, Mahmud menganggap apa yang dilakukan Teguh harus ditiru alumni yang lain. “Penerbitan buku ini turut mengharumkan nama kampus,” pungkasnya. [wep]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *