Budaya Literasi Pacu Kecerdasan Mahasiswa

Budaya Literasi Pacu Kecerdasan Mahasiswa

Budaya literasi atau membaca dan menulis, menjadi hal penting yang harus dimiliki mahasiswa, guna memajukan peradaban negara. Mengakarnya budaya literasi, akan membuat mahasiswa terbiasa berpikir kritis dan melakukan telaah ulang, atas segala hal yang ada di sekitarnya.  “Secara kultural, masyarakat Indonesia belum memiliki budaya literasi yang tinggi. Masyarakat lebih sering menonton atau mendengar dibandingkan membaca, apalagi menulis. Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan. Untuk itu perlu kita dorong budaya literasi ini, harus ditanamkan sejak dini kepada siswa. Tugas mahasiswa UPGRIS, terutama bagi calon guru, untuk bisa menumbuhkan budaya literasi ini,”papar Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof Dr Dadang Sunendar, dalam Seminar Nasional Literasi ‘Pemartabatan Bahasa Indonesia melalui Budaya Literasi dan Optimalisasi Ipteks’ di kampus IV UPGRIS Jalan Gajah Semarang, Kamis (21/12). Mengutip data statistik Unesco 2012, minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Ia juga memberi gambaran tingkat membaca pelajar Indonesia yang masih sangat rendah berdasarkan hasil tes PISA dari tahun ke tahun. Yakni  urutan ke-39 dari 41 negara (2002), ke-39 dari 40 negara (2003), ke-48 dari 65 negara (2006), ke-57 dari 65 negara (2009), ke-64 dari 65 negara (2012), dan ke-69 dari 76 negara (2015). Tingkat membaca penduduk Indonesia tertinggal dari Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

“Masyarakat belum terbiasa melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman dari membaca, sehingga belum dapat mengaktualisasikan diri melalui tulisan. Masyarakat lebih sering menonton atau mendengar dibandingkan membaca apalagi menulis,” terangnya, dalam seminar yang digelar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) UPGRIS tersebut. Dalam kesempatan tersebut,dirinya juga memaparkan pada saat ini masyarakat kita belum memprioritaskan pengadaan kamus sebagai salah satu kebutuhan yang perlu dipenuhi.“Kamus bukan hanya menunjukkan kekayaan kosakata, tetapi juga kekayaan budaya, karena masyarakat yang mengenal kamus adalah masyarakat yang dipastikan peradabannya tinggi,” terangnya.

Menurut Dadang, Badan Bahasa sejak tahun lalu sudah meluncurkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kelima secara daring dan luring sebagai sumber rujukan dan sumber penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peradaban Indonesia yang mudah diakses dan murah.“Kami meminta peserta yang hadir di sini untuk membantu menyosialisasikan KBBI V Daring melalui alamat kbbi.kemdikbud.go.id agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” tandasnya. Selain Dadang, juga hadir sebagai pembicara yakni novelis sekaligus dosen Universitas Negeri Jakarta, yang juga produser film ‘Duka Sedalam Cinta’ Helvy Tian Rosa MHum. Sementara, Ketua Panitia yang juga dosen FPBS UPGRIS Muchlis menuturkan, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat dan budaya literasi di kalangan mahasiswa. “Selama ini kita melihat, rata-rata mahasiswa ini tidak suka membaca, apalagi menulis. Harapannya dengan ini budaya literasi tumbuh. Hal tersebut bisa dituangkan dalam bentuk apasaja, termasuk dalam cerpen, puisi , blogger atau novel,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *