Begadang untuk Menulis Cerpen

Begadang untuk Menulis Cerpen

Profil Dhani Susilowati, mahasiswa PBSI UPGRIS.

Setiap orangtua selalu menghendaki yang terbaik untuk anaknya. Termasuk dalam cara mendidik mereka. Tak heran, bila orangtua menerapkan peraturan dan kedisiplinan. Masa kecil seperti inilah yang dialami Dhani Susilowati, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas PGRI Semarang tahun 2014. Apalagi Dhani, begitu ia biasa disapa, lahir dan tumbuh besar di daerah pedesaan, yaitu di desa Kalidadap, Wonosobo, yang dianggap terpencil karena akses jalan yang memang masih sulit.

“Ketika kecil, jujur saya kurang mendapat kebebasan untuk berbicara di keluarga. Sering tidak diperbolehkan ini dan itu. Harus disiplin belajar, pandai mengatur waktu bermain dan tidur siang,” kenang dara yang lahir setahun sebelum Reformasi terjadi, tepatnya 5 Februari 1997. Kerasnya didikan orangtua tak lekas membuat Dhani tak memiliki kebebasan. Ia masih diperbolehkan bergaul dengan teman, bermain bersama anak-anak sepantarannya. Satu hal yang sangat mengesankan baginya ialah kegemarannya bermain di sungai. “Waktu kecil di kampung, saya sangat dekat dengan sungai. Ciblon, bersama teman-teman. Itu permainan yang paling berkesan,” kisahnya sambil tersenyum tipis-tipis.

Didikan orangtuanya membentuk Dhani menjadi sosok yang diandalkan oleh keluarganya. Orangtuanya pun berharap ia bakal menjadi guru. Keingan orangtuanya searah dengan cita-cita Dhani. “Sejak kecil saya memang bercita-cita menjadi guru. Entah, saya melihat sosok guru adalah sosok yang sangat berjasa. Lebih lagi bagi orang kampung guru itu amatlah dihormati, dan orang tua saya mendukung. Orang tua saya sangat mendukung, mengingat cita-citanya dulu ingin menjadi guru dan tidak terpenuhi karena kendala biaya.”

Terkait pilihan Dhani memilih menjadi guru bahasa Indonesia, ada sekelumit cerita yang melatarinya. Sejak SD, Dhani suka Bahasa Indonesia. Ditambah lagi, waktu SMA Dhani dekat dengan guru Bahasa Indonesia, meski saat itu ia belum kenal sastra sejak SMA. “Jadilah saya punya pikiran untuk ambil kuliah di jurusan PBSI,” kenang putra Mismanto dan Jeminah. Pilihan ini jitu, karena Dhani termasuk punya bakat di bidang ini. Semasa SMA, beberapa kali Dhani menulis untuk Rohis di SMA. Kecintaannya pada bahasa Indonesia mau tak mau mengajaknya untuk kian dekat dengan buku bacaan dan kegiatan tulis-menulis.

Di kuliah, Dhani mendalami dunia kepenulisan. Ia bergabung dengan UKM KIAS yang berpusat pada kegiatan kepenulisan. Dhani banyak menimba ilmu dari cerpenis S. Prasetyo Utomo. Dari ketekunannya, Dhani mulai menuai hasilnya. Ia pun berhasil meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Pekan Olahraga Seni Mahasiswa (Porsima), Juara 1 Menulis Cerpen Bulan Bahasa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) UPGRIS, dan cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan cerpen Layung (2015) serta buku Kekasih Lautong dan Melati untuk Lin (2016).

Prestasinya itu ingin Dhani tingkatkan lagi. Pasalnya Dhani masih termasuk penulis yang bergantung mood. Jika sedang mood, Dhani bisa menulis berlembar-lembar halaman. Namun saat sedang agak malas, Dhani pun hanya baca-baca buku, terutama cerpen-cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, cerpenis favoritnya. Tarjet Dhani selanjutnya, ia ingin sebelum lulus kuliah bisa menerbitkan sebuah buku. Untuk itu, Dhani mesti begadang. Karena baginya, waktu terbaik untuk menulis adalah dini hari. “Waktu terbaik buat nulis, bagi saya dini hari, karena saya adalah orang yang tidak terlalu suka keramaian. Berisik, membuat saya, tidak fokus,” tegasnya. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *