Antisipasi Tanah Longsor, Mahasiswa Teknik Sipil UPGRIS Tanam Pohon

Antisipasi Tanah Longsor, Mahasiswa Teknik Sipil UPGRIS Tanam Pohon

Beberapa titik daerah di Kendal ditengarai berpotensi bencana alam tanah longsor, salah satunya di desa Seklotok. Penyebabnya di antaranya struktur tanah yang labil serta daerah berbukit dengan jumlah pohon yang terus berkurang. Salah satu upaya dini penanggulangan bencana tersebut ialah dengan melakukan penanaman pohon dan betonisasi.

Merespons persoalan tersebut, Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas PGRI Semarang mengagas program pengabdian masyarakat mengusung tema “Asri Alamku, Damai Desaku” dengan agenda penanaman pohon sekaligus diskusi pemecahan masalah tersebut bersama warga desa dan pihak-pihak terkait (26/09).

“Harus ada tindakan konservasi tanah gerak, salah satunya dengan penanaman pohon. Sesegara mungkin, sebelum musim hujan datang,” ungkap Kartika Septa W, ketua panitia acara tersebut. Lewat program ini pula, Septa mengaku bisa belajar langsung perihal struktur tanah, seperti yang ia pelajari di kelas.

Desa Seklotok memang terletak di dekat sungai yang alirannya sering mengikis punggung bukit di mana di atasnya banyak berdiri rumah-rumah warga. Penanaman pohon bambu akan membuat bukit jadi lebih kuat saat terterjang air. Dalam kesempatan ini, mahasiswa bersama kepala desa menanam pohon bambu di sekitar daerah pinggiran sungai disaksikan Kaprodi Teknik Sipil Agung Kristiawan ST MT.

Sementara itu, Kepala Desa Getas, Giyono, menyambut baik acara pengabdian mahasiswa tersebut. Giyono mengakui, kesadaran untuk mengantisipasi bencana alam memang harus terus disosialisasikan ke warga Seklotok. “Dusun Seklotok ini termasuk desa yang rawan bencana tanah longsor. Penanaman pohon diharap kelak mampu mengantisipasi bencana alam.”

Sementara itu Wakil Dekan II Fakultas Teknik dan Informatika Febrian Murti Dewanto, SE., M.Kom Anto menyebut program pengabdian ini adalah upaya mahasiswa mengaplikasikan salah satu Tridarma perguruan tinggi. “Dengan pengabdian ini, mahasiswa jadi belajar langsung dari persoalan di masyarakat. Sehingga ilmu yang ia serap di kampus bisa dipraktikkan.”[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *